MAAF, KARENA AKU MENGADA

Tangan bayi mengepal karna marah pada tuhan,
Dan tangisnya menyiratkan penyesalan karna telah lahir dan tidak diberi pilihan.
Seperti kita yang marah pada waktu yang mempersempit jangkauan,
Kita juga menyesal pada jarak yang memperberat langkahan.

Katanya tuhan hanya sejauh doa, berarti tuhan tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya fabrikasi akal kita.
Katanya waktu nyata karna kita tercelup dalam ruang, berarti mekanistik berupa waktu hanya konstruksi dari pikiran semata.

Saat sadar bahwa variabel sebenarnya saling terikat, kebebasan kita cuma jadi ilusi belaka.
Dan saat tidak ada lagi kambing hitam pemberi berkat, kita cuma bisa minta maaf karena telah mengada.

Teruntuk Gaia dan Uranus

Raga mendamba untuk kembali hancur menjadi debu.

Tulang-tulang menantikan pembebasan dari kalsifikasi, dan ingin terkikis lewat resorpsi.

Darah dan daging bersiap untuk transisi, dari sekedar tampak badani menjadi sebuah memori.

Ibu, ulurkanlah tanganmu seperti sulur pepohonan.
Aku ingin berputar di dalam nadimu seperti air yang menemukan bentuknya yang baru di dalam sebuah pipa.

Ayah, penuhilah paru-paruku sampai sesak dengan udara.
Aku ingin tercerai agar aku bisa membangun rumah dari kepingan fragmen diriku yang berhambur di permukaan langit.

Akan kurobek pelupuk realitaku dan berteriak aku kepada ceruknya.
Akan kulontarkan tengkorakku ke orbital ruang angkasa, supaya bisa aku melihat planet-planet menari di sekelilingku.
Tidak ingin kutinggalkan satupun serpihan residu disini, tidak juga sekedar noda lipstik diatas cangkir kopiku.
Karna aku hanya ingin.. Pulang.

Siapa aku?

Aku adalah kontradiksi.

Aku hampir tidak pernah benar-benar serius dalam suatu hal, tapi juga terlalu serius.

Aku kejam dan berdarah dingin, tapi juga sensitif.

Aku memakai logika, tapi juga bertindak impulsif.

Aku ingin bahagia, tapi selalu memikirkan hal yang menyedihkan.

Aku pesimis, tetapi ambisius.

Aku benci diriku sendiri, tapi juga menyukainya.

Aku terlalu idealis, tapi juga sangat realistis.

Aku bilang tidak peduli, tapi nyatanya aku memikirkannya.

Aku sangat menikmati kesendirian, tapi juga merasa kosong dan kesepian.

Aku tenang, tetapi kacau.

Aku haus perhatian, tapi aku menolak diberi perhatian.

Aku benci semua orang, tapi juga memiliki kasih pada setiapnya.

Aku ingin membangun koneksi mendalam, tapi selalu merasa terpisah dari dunia.

Aku lega bahwa aku hanya sebutir debu yang mudah terlupakan, tapi juga ingin dianggap ada.

Aku terlalu dalam, tapi juga terlalu dangkal.

Aku bisa ditebak dalam tidak tertebaknya aku.

Aku hidup, tapi aku mati.

Pikiranku berantakan.

Otakku adalah medan tempur.

Paradoks.

Seperti halnya benda-benda material yang lucunya disusun oleh sesuatu yang non-material.

Seperti oksigen yang menyokong kehidupan, tapi juga menyebabkan kemerosotan keberadaannya.

Seperti ironisnya kebebasan manusia untuk memilih, tapi juga tidak bebas dari konsekwensi pilihannya.

Seperti alam semesta yang selalu mengada dan kekal, tapi juga selalu berubah.

Aku. Adalah sebuah kontradiksi.

Bidak Catur

I’m a nameless chess pawn simply going through the motions of the game of life but can’t fit in the black or white category.

Aku: “Hidup itu berwarna-warni, atau semestinya ada abu-abu.. Tapi kenapa orang hanya melihat dikotomi hitam dan putih?”

Bidak catur: “Kenyataannya memang hanya ada hitam dan putih, tidak pernah ada grey area, situational circumstances, ataupun technicality. Kalau kau bajingan ya sudah bajingan saja gak ada sisi baiknya. Pilih tujuan akhir neraka ya neraka, surga ya surga, iblis versus tuhan, baik versus jahat, tidak bisa gelap menyatu dengan terang.”

Aku: “Ta.. tapi dalam banyak hal tertentu di kehidupan ini pasti ada paradoks. Kita memanfaatkan kebebasan untuk mendefiniskan benar dan salah menurut persetujuan sendiri. Baik-buruk bisa diputarbalikkan untuk yang berkepentingan. Mengapa banyak paradoks tapi tidak boleh berpikir secara paradoks?”

Bidak catur: “Karna membingungkan. Pemikiran seperti itu hanya membawamu kepada delusional ignorance dan siksaan hati yang intens, kawan. Make it clear which side you stand on.”

. . . . . . .

But I am a nameless chess pawn, who simply going through the motions of the game of life, but can’t fit in with the black, nor the white side.

Maybe I just can fit in with pizza and cheese, because they don’t judge, they just love.