Siapa aku?

Aku adalah kontradiksi.

Aku hampir tidak pernah benar-benar serius dalam suatu hal, tapi juga terlalu serius.

Aku kejam dan berdarah dingin, tapi juga sensitif.

Aku memakai logika, tapi juga bertindak impulsif.

Aku ingin bahagia, tapi selalu memikirkan hal yang menyedihkan.

Aku pesimis, tetapi ambisius.

Aku benci diriku sendiri, tapi juga menyukainya.

Aku terlalu idealis, tapi juga sangat realistis.

Aku bilang tidak peduli, tapi nyatanya aku memikirkannya.

Aku sangat menikmati kesendirian, tapi juga merasa kosong dan kesepian.

Aku tenang, tetapi kacau.

Aku haus perhatian, tapi aku menolak diberi perhatian.

Aku benci semua orang, tapi juga memiliki kasih pada setiapnya.

Aku ingin membangun koneksi mendalam, tapi selalu merasa terpisah dari dunia.

Aku lega bahwa aku hanya sebutir debu yang mudah terlupakan, tapi juga ingin dianggap ada.

Aku terlalu dalam, tapi juga terlalu dangkal.

Aku bisa ditebak dalam tidak tertebaknya aku.

Aku hidup, tapi aku mati.

Pikiranku berantakan.

Otakku adalah medan tempur.

Paradoks.

Seperti halnya benda-benda material yang lucunya disusun oleh sesuatu yang non-material.

Seperti oksigen yang menyokong kehidupan, tapi juga menyebabkan kemerosotan keberadaannya.

Seperti ironisnya kebebasan manusia untuk memilih, tapi juga tidak bebas dari konsekwensi pilihannya.

Seperti alam semesta yang selalu mengada dan kekal, tapi juga selalu berubah.

Aku. Adalah sebuah kontradiksi.

Bidak Catur

I’m a nameless chess pawn simply going through the motions of the game of life but can’t fit in the black or white category.

Aku: “Hidup itu berwarna-warni, atau semestinya ada abu-abu.. Tapi kenapa orang hanya melihat dikotomi hitam dan putih?”

Bidak catur: “Kenyataannya memang hanya ada hitam dan putih, tidak pernah ada grey area, situational circumstances, ataupun technicality. Kalau kau bajingan ya sudah bajingan saja gak ada sisi baiknya. Pilih tujuan akhir neraka ya neraka, surga ya surga, iblis versus tuhan, baik versus jahat, tidak bisa gelap menyatu dengan terang.”

Aku: “Ta.. tapi dalam banyak hal tertentu di kehidupan ini pasti ada paradoks. Kita memanfaatkan kebebasan untuk mendefiniskan benar dan salah menurut persetujuan sendiri. Baik-buruk bisa diputarbalikkan untuk yang berkepentingan. Mengapa banyak paradoks tapi tidak boleh berpikir secara paradoks?”

Bidak catur: “Karna membingungkan. Pemikiran seperti itu hanya membawamu kepada delusional ignorance dan siksaan hati yang intens, kawan. Make it clear which side you stand on.”

. . . . . . .

But I am a nameless chess pawn, who simply going through the motions of the game of life, but can’t fit in with the black, nor the white side.

Maybe I just can fit in with pizza and cheese, because they don’t judge, they just love.